Ngobrol Anti Narkoba di Kantor Bea Cukai, Charles Ngili: Jangan Berani Coba karena Awalnya seperti Bercanda Bisa Jadi Pecandu

Kepala Kanwil Bea Cukai Sulabgtara, Cerah Bangun dan dua narasumber dalam acara ngobrolanti narkba di Manado (foto: steven p)

Narasumber Beber Ancaman Masuknya Narkoba dari Luar Negeri

MANADO– Peredaran narkoba dan ancamannya terhadap generasi penerus bangsa menjadi salah satu perhatian serius Kepala Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara), Cerah Bangun. Karena itu ia mengapresiasi  kegiatan Ngobrol Anti Narkoba yang digelar beberapa waktu lalu di kantornya yang terletak di bilangan Bethesda.

Read More

“Kegiatan ngobrol anti narkoba ini diselenggarakan bertujuan untuk saling sharing terkait apa saja jenis narkoba baru yang saat ini masuk dan mengancam negara Indonesia, bahaya narkoba itu sendiri, dan dampak yang ditimbulkan bagi pengguna dan negara. Bukan hanya orang dewasa, saat ini sasaran para pengedar narkoba adalah para generasi muda bangsa Indonesia seperti pelajar dan mahasiswa,” ujar Cerah Bangun di Manado, Senin (26/3/2018).

Disebutkan bahwa semua sindikat narkoba mengincar Indonesia karena Indoesia adalah pangsa narkoba terbaik di dunia. Dengan berbagai macam jalur untuk masuk ke Indonesia dari luar negeri baik melalui jalur udara, laut maupun darat, hal ini merupakan tantangan yang serius bagi bangsa Indonesia untuk melawan masuknya narkoba ke Indonesia.

Cerah pun meminta seluruh satuan kerja Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, KPPBC TMP C Manado, dan KPPBC TMP C Bitung yang menjadi peserta kegiatan untuk dapat memahami, menginternalisasi, dan menerapkan apa yang disampaikan oleh narasumber.

Brigjen Charles Ngili selaku Kepala BNNP Sulut dan menjadi narasumber kegiatan ini mengatakan bahwa narkotika dibagi menjadi dua yakni narkoba dan non narkoba. Untuk wilayah Sulut, yang lebih memprihatinkan bukan pengguna narkobanya melainkan pengguna non narkoba dimana dampak yang ditimbulkan dari konsumsi narkoba dalam jumlah yang tidak dapat diukur ini lebih buruk dibanding dari dampak penggunaan narkoba itu sendiri.

Pada tahun 2015-2016, Sulut masuk dalam peringkat 15 dari seluruh provinsi di Indonesia yang masuk dalam kategori rawan narkoba. Penggunaan terbanyak adalah non narkoba seperti komiks dan obat-obatan yang dicampur dengan cap tikus.

Narkoba yang masuk ke Indonesia berasal dari Negara Asia untuk jenis shabu dan dari Eropa untuk jenis ekstasi. Beberapa negara-negara Asia yang memasok narkoba ke Indonesia adalah China, Myanmar, Thailand, Pakistan dan India.

“Kita kebobolan shabu sebesar 500-600 ton yang berasal dari China. Karena di negara China, memproduksi shabu adalah tindakan yang legal, namun mengedarkan ke China sendiri adalah tindakan illegal. Oleh karena itu, China mengirim shabu hasil produksinya ke Indonesia karena Indonesai dianggap sebagai pasar bisnis narkoba yang sangat menjanjikan,” dia memaparkan.

Selain China, Papua Nugini juga memproduksi ganja. Berbeda dengan China, cara Papua Nugini memasukkan narkoba ke Indonesia yaitu dengan cara barter dengan barang elektronik karena barang elektronik yang masuk ke Papua Nugini harus membayar bea masuk yang mahal.

Oleh karena itu Papua Nugini menggunakan cara barter ini agar mendapat harga elektronik yang murah. Charles juga mengimbau agar warga tidak mencoba narkoba.

“Sekali nyoba, jangan percaya kalau besok nggak akan nyoba lagi. Jangan berani mencoba narkoba! Awalnya bercanda, bisa jadi pecandu” ungkap Charles.

Charles juga mengimbau, sebagai aparatur sipil negara agar jangan menjadi pengkhianat negara. “Kita menerima gaji dari Negara Indonesia, tapi kita membebaskan penyelundupan narkoba yang masuk ke Indonesia,” ujarnya.

Ricko, selaku Direktur Reserse Narkoba Polda Sulut yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan ini mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir, ada kurang lebih 1.000 ton shabu yang masuk ke Indonesia. Dan yang sudah diungkap baru sekitar 10-15 ton shabu. “Ini berarti masih sekitar 1.000 ton shabu yang belum diungkap dan siap diledakkan di Indonesia,” ucapnya.

Menurut Ricko, 1.000 ton yang belum diungkap dan masih belum diketahui keberadaanya itu masih berupa bahan setengah jadi, dan bahan yang membuatnya menjadi barang jadi itu berada di Indonesia. “Jalur penyelundupan narkoba ke Indonesia yang paling banyak adalah jalur laut. Kebanyakan dari Makasar dan Jakarta,” katanya.

Untuk Pulau Sulawesi sendiri, lanjut dia, sering terjadi kebobolan masuknya peredaran narkoba di perbatasan Bolmong yaitu peredaran dari Palu dan Makasar.” Bahkan, peredaran narkoba di Palu bukan hanya tersedia paket hemat melainkan sudah tersedia paket anak-anak dimana dapat dipadatkan hanya dengan Rp 20.000 untuk 3 hingga 4 kali hisap,” dia membeberkan..

Ricko juga menyampaikan bahwa terdapat kurang lebih 70 jenis narkoba baru yang masuk ke Indonesia. Beberapa diantaranya adalah tembakau gorilla, flakka, CC4, zolpidem/ sleepy walking pill, fentanyl (memiliki efek 50 kali lebih dahsyat dari heroin, biasanya untuk obat bius badak, jerapah, dan gajah), PCC, canabinoit dan masih banyak lagi jenis lainnya.

“Untuk wilayah Sulawesi Utara, kasus yang banyak terjadi di masyarakat adalah fenomena komiks. Dimana komiks dikonsumsi dalam jumlah yang luar biasa (30 Sache),”  pungkasnya. (steven pandeirot)

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MEGA MANADO di GOOGLE NEWS

Related posts