Manado, megamanado- Revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Tikala, Tondano, dan Sario di Kota Manado sudah masuk kategori darurat. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Forum Pemerhati Pembangunan Sulut, Stenly Sendouw menyikapi kondisi sungai yang semakin menyempit dan mengalami sedimentasi tinggi, terutama di masim hujan seperti saat ini.
“Dengan intensitas hujan yang tinggi, banjir sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman nyata bagi warga sekitar. Maka itu revitalisasi DAS Tikala, Tondano, dan Sario di Kota Manado menjadi proyek yang sangat urgent atau mendesak,” kata Stenly kepada wartawan di Manado, Selasa (3/2/2026).
Sungai Tikala, Tondano, dan Sario merupakan aliran utama yang melintasi Kota Manado. Tapi, sedimentasi dan pendangkalan sungai, serta perubahan tata guna lahan di sekitarnya telah menyebabkan daya tampung sungai berkurang drastis.
Akibatnya, saat curah hujan tinggi, air dengan mudah meluap dan menyebabkan banjir di berbagai titik kota.“Jika proyek revitalisasi DAS terus tertunda, maka jumlah dana yang harus dikeluarkan untuk menangani dampak banjir setiap tahun justru bisa jauh lebih besar daripada anggaran yang dibutuhkan untuk revitalisasi itu sendiri,” ujarnya.
Proyek pengendalian banjir ini seharusnya menurut Stenly tidak mengalami hambatan mengingat anggarannya sudah tersedia. Diketahui proyek bernilai triliunan ini didanai melalui program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) dari Bank Dunia. “Tujuan utama adalah mengurangi risiko banjir di ibu kota Sulawesi Utara,” ucap Stenly.
Ia memperoleh data jika proses pembebasan lahan sudah clear, tak ada persoalan lagi. “Ganti untung warga terdampak normalisasi sungai ini jangan ditunda lagi, semakin cepat semakin lebih baik supaya proyek ini sudah bisa berjalan,” ujarnya.
Terkait hal tersebut, salah satu staf di Balai Wilayah Sulawesi (BWS) menyebut dana memang sudah ada. “Tapi BWS masih menunggu validasi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), setelah itu baru bisa dicairkan,” ujarnya. (acl)
