Adrianus B. Tinungki : Jejak Panjang Birokrat yang Tak Pernah Usai

Aktif bergiat di berbagai forum. Inzert bersama Yulianus S Komaling pada sebuah kesempatan. ((Foti: Kex)

DI dunia birokrasi, tidak semua nama bertahan setelah masa tugas selesai. Sebagian menghilang bersama serah terima jabatan. Sebagian lain tetap hidup dalam ingatan institusi karena rekam jejaknya meninggalkan sistem, bukan sekadar arsip.

Adrianus B. Tinungki termasuk dalam kategori yang kedua.

Kariernya dibangun bukan dari lonjakan cepat, melainkan dari tangga demi tangga. Ia tumbuh dalam kultur birokrasi yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan keteguhan administratif. Dari fase perencanaan, teknis lapangan, hingga posisi strategis di lingkup energi dan sumber daya mineral, ia membentuk reputasi sebagai pejabat yang memahami detail sekaligus peta besar kebijakan.

Rekam jejaknya melintasi sejumlah sektor penting: lingkungan hidup, kelautan dan perikanan, pertanian, hingga energi. Setiap fase membentuk perspektif yang menyeluruh tentang bagaimana sumber daya harus dikelola—tidak hanya sebagai potensi ekonomi, tetapi sebagai amanah pembangunan daerah.

Ketika dipercaya memimpin sektor energi dan sumber daya mineral, ia berada di titik paling sensitif dalam tata kelola pembangunan daerah. Sektor ini selalu berada di persimpangan antara investasi, regulasi, lingkungan, dan kepentingan masyarakat. Di sana, ia dikenal bukan sebagai figur yang reaktif, tetapi sebagai teknokrat yang berhati-hati dan terukur.

Bagi Tinungki, kebijakan bukan ruang untuk popularitas. Ia adalah kerja sistem. Ia adalah soal keberlanjutan. Ia adalah keputusan yang harus bisa dipertanggungjawabkan, bukan hanya hari ini, tetapi bertahun-tahun ke depan.

Yang menarik, jejaknya tidak berhenti ketika masa purnatugas tiba.

Berbeda dengan banyak birokrat yang memilih jeda total, ia tetap berkutat dalam dinamika sektor strategis, khususnya di bidang pertambangan. Bukan lagi dalam kapasitas struktural pemerintahan, tetapi sebagai sosok yang membawa pengalaman, jejaring, dan pemahaman regulatif yang panjang.

Di titik ini terlihat jelas: baginya, pengabdian tidak identik dengan jabatan. Ia lebih dekat pada kompetensi dan tanggung jawab moral terhadap sektor yang telah lama ia geluti.

Keterlibatannya pasca-pensiun menunjukkan satu hal penting: pengalaman birokrasi tidak berhenti ketika SK berakhir. Memori institusional, pemahaman regulasi, dan kemampuan membaca risiko tetap relevan—terutama dalam sektor yang membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tata kelola yang prudent.

Mereka yang mengenalnya menyebutnya sebagai figur yang tenang namun tegas. Tidak mudah terombang-ambing dinamika politik, tetapi juga tidak kaku menghadapi perubahan. Ia terbiasa bekerja dalam tekanan, tetapi jarang terlihat panik. Dalam banyak situasi, ia memilih membaca lebih dulu sebelum berbicara.

Itulah mungkin sebabnya jejaknya tidak pernah benar-benar usai.

Pengalaman panjang di birokrasi membentuknya sebagai penjaga keseimbangan. Sementara kiprah setelah pensiun memperlihatkan bahwa ia masih memiliki energi dan komitmen untuk tetap terlibat dalam isu-isu strategis daerah.

Di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks, sosok dengan memori panjang kebijakan menjadi aset tersendiri. Tidak untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk memastikan bahwa langkah ke depan tidak kehilangan pijakan.

Jejak panjang itu kini menjadi modal reflektif sekaligus operasional.

Dan seperti banyak figur yang ditempa waktu, ia tidak pernah benar-benar selesai bekerja—ia hanya berganti peran.Karena bagi sebagian orang, pengabdian bukan fase karier.Ia adalah sikap hidup. (kex)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MEGA MANADO di GOOGLE NEWS

Related posts