Dr. Juriko Pandean: Akupunktur Bermanfaat, Asal Berbasis Ilmiah

Kauditan, MM – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap terapi komplementer, akupunktur kembali mendapat perhatian. dr. Juriko P. Pandean, MARS, Sp.KKLP menilai, akupunktur memiliki nilai kesehatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata selama dipahami secara proporsional dan dijalankan oleh tenaga profesional.

Menurut dr. Juriko, akupunktur adalah teknik pengobatan yang telah berusia ribuan tahun dan memiliki akar kuat dalam sejarah kedokteran Tiongkok. “Di negara asalnya, akupunktur bukan sekadar praktik tradisional, tetapi berkembang menjadi cabang ilmu yang dipelajari secara formal,” ujarnya.

Jejak akupunktur dapat ditelusuri hingga teks klasik Huangdi Neijing yang diperkirakan disusun sekitar abad ke-2 sebelum Masehi. Dalam literatur tersebut, dijelaskan konsep meridian dan keseimbangan energi (qi) yang menjadi dasar praktik akupunktur.

Selama lebih dari dua milenium, teknik ini berkembang sebagai bagian dari sistem Traditional Chinese Medicine (TCM). Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, praktik tersebut tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga diuji melalui pendekatan ilmiah modern.

Di Tiongkok, akupunktur telah terinstitusionalisasi dalam sistem pendidikan tinggi. Universitas seperti Shanghai University of Traditional Chinese Medicine dan Beijing University of Chinese Medicine membuka program khusus Akupunktur dan Moksibusi hingga jenjang pascasarjana.

Kurikulum mereka memadukan teori pengobatan tradisional dengan anatomi, fisiologi, dan praktik klinis modern. Fakta ini, menurut dr. Juriko, menunjukkan bahwa akupunktur telah mengalami proses akademisasi yang serius di negara asalnya.

Lembaga seperti National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) di Amerika Serikat menyebutkan bahwa akupunktur dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer untuk beberapa kondisi, terutama:

  • Nyeri punggung bawah kronis
  • Nyeri leher
  • Osteoarthritis
  • Migrain dan tension headache

Namun, efektivitasnya tidak seragam untuk semua penyakit. Sejumlah meta-analisis menunjukkan manfaat pada tingkat moderat, dan dalam beberapa studi perbedaannya dengan prosedur tiruan (sham acupuncture) relatif kecil.

Karena itu, dr. Juriko menekankan pentingnya sikap ilmiah. “Akupunktur bukan terapi ajaib. Ia memiliki indikasi tertentu, terutama pada kasus nyeri kronis, dan harus ditempatkan sebagai terapi komplementer, bukan pengganti pengobatan medis utama,” katanya.

Dari sisi keselamatan, berbagai laporan ilmiah menyebutkan risiko komplikasi serius relatif jarang jika akupunktur dilakukan oleh tenaga terlatih menggunakan jarum steril sekali pakai. Risiko meningkat ketika prosedur dilakukan tanpa standar medis yang memadai.

Di sinilah, menurut dr. Juriko, peran edukasi menjadi penting. Masyarakat perlu memahami bahwa terapi komplementer tetap memerlukan standar kompetensi dan etika medis.

Akupunktur berdiri di persimpangan antara tradisi dan ilmu pengetahuan modern. Ia memiliki akar sejarah yang panjang, pengakuan akademik di Tiongkok, serta sejumlah bukti ilmiah untuk kondisi tertentu khususnya gangguan nyeri kronis.

Bagi dr. Juriko yang juga saat ini merupakan direktur RSU Hermana Lembean, pendekatan terbaik adalah integratif: memanfaatkan keunggulan terapi konvensional dan komplementer secara bijak. “Yang utama adalah keselamatan pasien dan dasar ilmiah yang jelas,” ujarnya.

Di tengah arus informasi kesehatan yang kian deras, publik dituntut tidak mudah terjebak pada klaim berlebihan. Akupunktur bisa menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan bukan karena mitosnya, melainkan karena indikasi medis dan praktik profesional yang menyertainya.(Aldo)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MEGA MANADO di GOOGLE NEWS

Related posts