Suasana Debat Kedua Pilkada Bitung 2024.
Bitung, megamanado– Calon Walikota Bitung Geraldi Mantiri dan Hengky Honandar terlibat perdebatan tentang dunia perikanan, khususnya dalam kaitan dengan fenomena alam La Nina. Geraldi menyatakan fenomena tersebut justru menguntungkan bagi pelaku usaha perikanan di Bitung, dalam hal ini nelayan kecil.
Perdebatan Geraldi dan Hengky terjadi dalam Debat Kedua Pilkada Bitung yang berlangsung sore tadi. Oleh KPU Bitung selaku penyelenggara, debat kali ini diadakan di Kota Cakalang, tepatnya di Kantor DPRD setempat. Mantan News Presenter Kompas TV Manado, Angie Kuntag, tampil sebagai moderator dalam debat kedua ini.
Debat antara Geraldi dan Hengky terjadi di sesi keempat saat masing-masing pasangan calon diberi kesempatan bertanya ke kompetitor mereka. Nah, saat memperoleh kesempatan untuk bertanya ke Hengky, Geraldi menanyakan dampak fenomena La Nina terhadap dunia perikanan dan nelayan kecil.
Berikut di bawah in kronologi tanya-jawab Geraldi dan Hengky:
Geraldi bertanya:
La Nina adalah fenomena alam dalam sistem iklim dunia yang terjadi, dimana suhu permukaan laut mengalami penurunan. Dan apabila ini terjadi, ini akan sangat berdampak pada sektor perikanan. Saya ingin bertanya kepada paslon 02 yang notabene adalah pengusaha perikanan, kurang lebih. Bagaimana tanggapan selaku pelaku usaha perikanan Kota Bitung, terkait fenomena La Nina di Kota Bitung, yang berdampak bagi nelayan kecil dan industri perikanan?
Hengky menjawab:
Baik terima kasih. Pada dasarnya kami Indonesia mempunyai regulasi, yaitu dalam zona penangkapan, wilayah penangkapan dan kuota penangkapan, yaitu penangkapan terukur. Jadi untuk persoalan La Nina adalah, di mana pada dasarnya setiap wilayah penangkapan tidak merata untuk penangkapannya. Jadi dengan demikian, dengan adanya wilayah penangkapan, maka wilayah-wilayah lain yang mendapat paceklik, kami akan beralih ke wilayah penangkapan yang mempunyai sumber daya yang masih cukup untuk penangkapan tersebut. Terima kasih.
Geraldi menanggapi jawaban Hengky:
Fenomena La Nina adalah fenomena perubahan suhu di atas permukaan air, dan ini yang terjadi ketika upwelling. Bicara upwelling ini, jadi upwelling ini adalah pada dasarnya berhubungan dengan makanan dasar spesies ikan. Kalau terjadi La Nina, maka kandungan klorofil-a yang merupakan makanan untuk ikan laut, sehingga sangat menguntungkan untuk nelayan kecil karena ikan itu naik ke permukaan. Dan yang kedua, langkah dari pemerintah adalah membuat sistem pemberitahuan dini, agar supaya nelayan kecil ini bisa dioptimalkan, dan mereka mendapatkan dukungan untuk supaya mengetahui La Nina itu sedang terjadi. Yang berikutnya adalah subsidi kepada nelayan. Dan yang ketiga adalah, bagaimana ketika perubahan iklim terjadi, maka teknologi terbarukan ini bisa terpenuhi. Dan juga terkait dengan bagaimana penyuluhan dan sosialisasi kepada kalangan nelayan, untuk supaya merasakan dampak dari La Nina ini. Terima kasih
Hengky menanggapi tanggapan Geraldi:
Baik terima kasih. Ya, memang pada saat La Nina itu plankton-plankton akan timbul. Dengan demikian ikan-ikan pelagis akan datang mendekat. Tapi pada dasarnya kehidupan produksi setiap perusahaan tidak sama. Ada UPI (Unit Pengolahan Ikan,red) yang mampu memproduksi ikan pelagis yang kecil, dan ada UPI yang memproduksi ikan skipjack atau cakalang, dengan tuna. Sehingga pada dasarnya penangkapan yang kami lakukan, dari penangkapan ikan kecil, pada dasarnya zona 12 mil ke darat. Dan pada zona ini sudah dikuasai, eh kewenangan berada pada pemerintah provinsi. Sehingga kami perlu berkoordinasi ke pemerintah provinsi untuk mendapat akses untuk hal tersebut. Terima kasih.
Terkait perdebatan soal La Nina ini, upaya pengecekan fakta pun dilakukan. Upaya ini dimaksudkan untuk memperoleh penjelasan yang komprehensif, dan yang terpenting penjelasan yang bersifat netral terkait materi yang diperdebatkan. Alhasil, megamanado.com berhasil mendapatkan penjelasan dari pakar yang berkaitan dengan fenomena La Nina ini, yaitu Alan Koropitan.
Alan adalah putra Sulawesi Utara yang dikenal sebagai ahli Oseanografi dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Selain itu, yang bersangkutan juga pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian I Kantor Staf Kepresidenan RI, di masa Presiden Joko Widodo. Upaya meminta keterangannya dilakukan via sambungan ponsel malam tadi.
Alan menjelaskan bahwa La Nina ini adalah fenomena pergeseran kolam air hangat dari wilayah perairan Pasifik Barat dan perairan sebelah utara Papua, menuju ke perairan bagian timur Indonesia. Fenomena ini ditandai dengan penguapan yang tinggi di laut sehingga menyebabkan curah hujan juga tinggi.
Dampak La Nina terhadap dunia perikanan lanjut Alan, tidak sama antara satu wilayah dengan wilayah yang lainnya. Ia mencontohkan kondisi yang terjadi di perairan sebelah selatan Pulau Jawa dan Laut Banda, dengan perairan yang berdekatan dengan Pulau Sulawesi, semisal Teluk Tomini, Laut Maluku dan Laut Sulawesi.
“Kalau di daerah selatan Jawa, atau misalnya di Laut Banda, saat La Nina itu upwelling-nya lemah sehingga produktifitas ikan juga ikut rendah. Tapi sebaliknya, di perairan Indonesia bagian timur, ikan-ikan pelagis besar itu, seperti Tuna, Cakalang dan Madidihang, itu melimpah. Sebab itu tadi, karena ada pergeseran kolam air hangat sehingga ikan ikut bermigrasi menuju ke perairan bagian timur, seperti Teluk Tomini, Laut Maluku dan Laut Sulawesi,” terangnya.
Dengan demikian kata Alan, saat fenomena La Nina terjadi di wilayah perairan Bitung dan sekitarnya, maka benar bahwa industri perikanan termasuk nelayan kecil justru diuntungkan. Pasalnya, dalam situasi tersebut ketersediaan ikan pelagis besar akan melimpah dan lebih mudah ditangkap.
“Terlebih khusus untuk nelayan-nelayan yang menggunakan (cara penangkapan ikan) handline, jadi lebih mudah untuk menangkap ikan. Sebab selain stok melimpah, mereka juga tidak perlu jauh-jauh ke perairan yang lebih dalam untuk menangkap ikan. Karena ikan-ikannya sudah bermigrasi ke perairan yang lebih dekat dengan pantai,” pungkasnya.(bds)

