Diduga Polsek Malalayang, Terima Setoran Dari Pangkalan Taxi Liar

  • Whatsapp

SULUT-Megamanado.com-Ketua Organda sulut Novry Rengkung Pertanyakan tindakan Bapak kapolda sulut, Taksi Glap (taksi gelap\liar) sudah beberapa tahun ini keberadaannya terus eksis di Kota Manado bahkan menjadi satu sisi perlawanan aturan atau regulasi negara terhadap ketentuan UU tentang angkutan resmi yang sudah di atur. Angkutan liar jenis ini seolah menjadi suatu fenomena sosial perlawanan bentuk ilegalitas kepada sesuatu yang legal. Bahasa sederhananya adalah melawan atau menubruk aturan dengan sengaja. Tak heran ia disebut taksi gelap.

Novry Rengkung Meski disebut gelap dan liar yang berarti juga illegal dan dilarang, keberadaan angkutan tanpa pool atau terminal dan trayek ini terus merebak  bahkan  bertambah jumlahnya. Bahkan merajalela di jalan dan dengan sengaja tanpa ragu membuat terminal-terminal bayangan yang ironisnya ada didekat Polsek Malalayang.

Takurung para sopir bus yang kehidupan ekonomi keluarga serta masa depan anak cucu mereka sangat bergantung pada profesi mereka sebagai sopir bus menjadi sangat resah, tidak diperhatikan, bahkan di anak tirikan oleh pemerintah terlebih oleh kepolisian daerah (POLDA SULUT) dan Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Utara.

Terpantau Otomatis tak hanya berkurang drastis- pendapatan para sopir bus di beberapa terminal yang ada di Kota Manado maupun di kota Kabupaten-kabupaten ini benar-benar kritis dan memprihatinkan. Terutama di saat-saat menjelang Natal yang semestinya para sopir menikmati berkah melimpahnya penumpang setelah Covid yang anjang dan terus berlangsung.

“Ketua Organda Sulut Novry Rengkung, Menanggapi keluhan para sopir agar lewat Kompasiana dapat menyalurkan suara hati nurani, keresahan, kekecewaan serta kemarahan  mereka, penulispun melakukan report langsung ke beberapa terminal bus dan beberapa lokasi tempat pangkalan liar angkutan taksi gelap, ” Paparnya Rengkung

Rasa nyeri dan prihatin segera menyergap rasa haru penulis begitu tiba di Terminal Karombasan sebagai Salah satu terminal bus di Kota Manado. Beberapa sopir  nampak bersandar di badan bus sambil memperhatikan naik turunnya penumpang.

Rata-rata penumpang adalah para manula dan paruh baya meski ada juga beberapa anak muda. Menurut para sopir, penumpang yang beralih naik taksi gelap persentasinya jauh lebih besar dari yang memilih dan taat peraturan untuk naik angkutan bus  yang disarankan pemerintah.

“So abis kasing torang. Orang so lebe banya nae taksi glap daripada nae bis. Mustinya tanggal deng bulan Desember bagini panumpang pe banya-banya, torang pe pemasukan so memadai. Mar Ini kasiang memang pas-pas for bras deng ikang. Apa lagi masuk covid so ajar bantuan for sopir torang nda dapa nentau da kamana. Nentau mengeluh pa sapa. Dari dulu pemerintah Cuma tutu akan mata deng talinga. Makanya lewat Kompasiana ini kalu boleh torang pe suara manangis dengan doa boleh ta sampe pa presiden,”ujar ketua Organda sulut

selesai sudah kita. Orang lebih banyak beralih ke taksi gelap daripada naik bus. Mestinya tanggal dan bulan Desember seperti ini saat penumpang melimpah pemasukkan kita para sopir so lumayan memadai. Tapikaliini kasihan… pendapatan kami pas-pasan untuk beli lauk dan beras. Tambah lagi sementara masa Covid kong torang pe bantuan para sopir nda ada yang dapat torang. Nda tahu kemana perginya. Sejak dulu kami mengeluh pemerintah terkesan tutup mata dan telingan karena kami kaum kecil. Makanya lewat Kompasiana kami menitip suara tangisan dan doa kami kepada Presiden kami yang kami pilih), ujar Klinton salah satu sopir yang minta namanya disamarkan.

Dari balik mata syahdu sopir bus ini penulis dapat meraba keresahan akan pergumulan dan kebutuhan hidup yang sangat berat. Ada air bening kecil menggantung di salah satu sudut mata itu “Dulu kami tak seperti ini,,” tambahnya sembari sedikit berpaling menyembunyikan kesedihan berbaur kepanikan di raut legamnya yang terpapar matahari.

Wajah-wajah serupa itu terlihat  menghiasi juga raut para sopir bus lain yang ada di terminal Pinasungkulan ini.

Meski begitu dengan begitu tabah mereka taat  menjemput rejeki yang tak seberapa. Mereka setia melayani penumpang walau hanya bisa sekali dalam sehari  membawa penumpang dengan jarak tempuh satu sampai satu jam setengah. Mereka begitu setia bangun pagi-pagi sekali menuju terminal sebagai tempat mempertaruhkan hidup dan masa depan anak cucu mereka. mereka terlalu setia menunggu dari pagi hingga sore hari untuk waktu keberangkatan, begitu pula dengan begitu setianya mereka bermalam di terminal tujuan untuk menunggu keberengkatan kembali pada esok harinya.

Sementara itu, Terpantau tak sampai berpuluh-puluh kilo dari terminal bus ini deretan mobil minibus seperti avansa dan  senia berderet berani di depan komplek perbelanjaan samping muti mart bahun tidak jauh dari polsek malalayang. Bahkan di beberapa ruas jalan Bahu dan Malalayang, dengan berani para sopir angkutan ilegaal bernama taksi gelap ini terlihat sibuk meneriakan rute tujuan amurang agar para penumpang mendekat. Wajah2 mereka Suatu pertanda bahwa pendapatan mereka banyak.

Lalu di mana gerangan para polisi lalin dan dinas perhubungan sebagai pemangku kepentingan angkut mengangkut penumpang ini? Perlahan wajah pak Benya dan beberapa sopir lain yang penuh duka melintas di depan mata penulis.

Sungguh kontras dan beda dengan wajah para sopir taksi gelap yang sumringah dan penuh tawa menyambut antrian penumpang yang membuat mereka bisa berkali-kali dalam sehari  mengantar balik para penumpang di kota tujuan. Lalu benarkah isu soal kepemilikan beberapa unit taksi gelap oleh oknum kepolisian dan TNI serta tameng premanisme di balik bisnis gelap ini? Dan tentang harapan para sopir bus agar presiden peduli dengan keberadaan mereka boleh  berbuah menjadi benih kenyataan meski kecil saja? Tentu saja bisa, mengingat Presiden Jokowi adalah sosok yang blusukan dan peduli rakyat kecil. Tapi jika itu terjadi apa sesungguhnya peran kepolisian dan dinas perhubungan daerah? Tentu saja ini terlalu ironis, batin penulis, sambil berjanji untuk terus mengusut dan mengeksplorasi data soial taksi gelap ini serta adanya kesan pembioaran dari pihak bersangkutan,” Tegas Ketua Organda Sulut Novry Rengkung

“Novry Rengkung mengatakan kepada media, Dari hasil ivesntigasi di lapangan pengakuan Sopir pangkalan Bahu  pangkalan Bantik juga Uno dan Malalayang, Sesuai pangakuan keempat Sopir masing masing pangkalan, meraka masuk pangkalan membayar Rp 4,500.000 dan ada juga yang membeyar bisa dicicil persatu unit taxi gelap, pengakuan Sopir Sopir taxi gelap di empat pangkalan liar, kepala pangkalan masing-masing menyetor ke Polsek malalayang, “jelas Rengkung

Ketika media megamanado.com Konfirmasi lewat  whatSaap +62 821-9505-xxxx kepada kapolsek Malalayang, kapolsek Malalayang mengatakan saya akan cek dulu yah informasi ini,” Tutup kapolsek Malalayang.(Red)

Related posts