Wanita Asal Sangihe ini, Saksi Hidup Pengasuh Ade Irma Suryani Nasution

  • Whatsapp

SANGIHE, megamanado com- Mengenang kembali kisah pilu yang terjadi 30 September 1965, kita tidak akan lupa dengan bocah yang juga menjadi korban bersama dengan para jendral pada saat peristiwa itu terjadi, Irma Suryani, yang lebih di kenal Ade Irma Nasution, yang walaupun saat ini tingal batu nisan menjadi saksi tempat dia di semayamkan namanya tetap abadi.

Kisah Ade Irma Suryani Nasution dikisahkan lagi, Alpiah Makasebape, (86), asal sangihe, saat di kunjungi Danrem 131 Santiago Brigjen. TNI., Muklis. S.A.P, M.M, di kediamannya di kelurahan Dumuhung kecamatan Tahuna Timur, kabupaten kepulauan Sangihe, Selasa (7/6/2022).

Alpiah Makasebape, adalah orang yang sangat dekat dengan keluarga Nasution, bahkan bisa di kata wanita kelahiran Tamako, 1936 ini satu satunya saksi hidup akan peristiwa G30S PKI di rumah kediaman Jendral Nasution, yang merenggut nyawa Ade Irma.

Sambil berlinang air mata Oma Alpiah, mengkisahkan awal kedekatannya dengan keluarga Nasution, tepatnya February 1960 wanita yang sempat mengenyam pendidikan di Yayasan Dr. A Tilaar Jakarta, menginjakan kaki di rumah kediaman Jendral Nasution, sebagai Baby sitter.

“Baby sitter, untuk menjaga dan merawat bayi yang umurnya waktu itu berkisar 2 Minggu, yang tak lain adalah Ade Irma Suryani Nasution, dan kaka nya Yani Nasution, banyak kisah dan cerita suka juga duka yang semuanya masih kental di ingatanku,” ucap Oma Alpiah, sambil menyekah air mata.

Yang pasti lanjut Oma Alpiah, peristiwa G30S PKI itu tidak akan pernah terlupakan dari benak saya, itu karena keluarga Jenderal Nasution, tidak pernah menganggap saya sebagai orang kerja Baby sitter, tapi di anggap saya bagian dari keluarga Nasution.

“Tidak heran kemana keluarga Nasution pergi, di situ saya ada, bahkan sampai Ade Irma Nasution menghembuskan nafas terakhir ada di genggaman tangan ini,” ucap Oma Alpiah, yang akhirnya Tahun 1997 dirinya kembali dan menetap di Sangihe sampai saat ini. (e’Q)

Related posts