Monni Ditahan dan Dharmo Bebas, Kok Beda Perlakuan untuk Kasus yang Sama?

  • Whatsapp
Ilustrasi penahanan (Istimewa)

Manado, megamanado.com-Dua kasus dugaan penipuan yang saat ini ditangani Polresta Manado dan Polsek Wenang mendapat sorotan sejumlah kalangan. Pasalnya dua kasus dengan substansi yang sama itu berbeda perlakuan.

“Di Polsek Wenang, MS alias Monni atau Moses sudah ditahan dalam kasus dugaan penipuan senilai Rp100 juta. Sementara di Polresta Manado, HD alias Dharmo masih bebas dalam kasus dugaan penipun sebesar Rp200 juta,” kata Margareth, warga Mapanget.

Y, MS saat ini sudah menjadi tahanan Polsek Wenang. Pengusaha muda asal Batak itu dilaporkan HD alias Dharmo melalui pengacaranya beberapa waktu lalu ke Polsek Wenang. MS disebut membeli atau mengambil sianida sebesar Rp100 juta dari HD. Pembelian atau pengambilan barang hanya atas dasar kepercayaan.

Dalam perjalanan, MS memberi cek kosong ke HD. MS memberikan cek kosong karena sudah terdesak. Padahal ia belum mendapatkan hasil dari pengolahan tambang. HD lalu melaporkannya ke Polsek Wenang. MS kemudian ditahan.

“Pertanyaan kami kenapa HD melaporkan kasus itu ke Polsek Wenang padahal cek diberikan di Mantos. Seharusnya itu dilapokan ke Polsek Sario. Atau karena MS dan HD sama-sama warga Mapanget, lebih bijak kalau kasus ini dibawa ke Polsek Mapanget,” ujar Rony, warga Sario menganalisa.

Sayang sampai berita ini diturunkan, Kapolsek Wenang AKP Emilda Sonu belum berhasil dimintai keterangan. “Ibu Kapolsek lagi turun lapangan,” ujar salah satu petugas piket saat media ini dan sejumlah wartawan menyambangi  Mapolsek Wenang, Senin (11/10/2021).

Para aktivis LSM kemudian membandingkan kasus yang sama di Polresta Manado. Kebetulan pula, HD terseret dalam kasus tersebut. HD dilaporkan FG alias Ferry melalui kuasa hukumnya Doan Togah atas pemberian cek kosong senilai Rp200 juta. Namun, Polresta Manado tidak buruh-buruh melakukan penahanan terhadap HD. Dalam kasus ini, MS sempat dimintai keterangan sebagai saksi.

Seperti dilansir sejumlah media, kasus bermula saat HD atau terlapor memesan sianida kepada FG sebesar Rp312 juta. Di awal, HD membayar Rp100 juta. Sisanya ia memberikan cek Bank SulutGo Cabang Paal Dua dengan nilai Rp200 juta.

Namun, setelah FG melakukan kliring, ternyata cek tersebut kosong. Ia lalu membawa persoalan ini ke ranah hukum. “Laporan itu sudah kami terima dan saat ini sedang dalam proses penyelidikan,” kata Kasat Reskrim Polresta Manado, Taufiq Arifin.

Doan Tagah selaku pengacara FG membenarkan keterangan Taufiq. “Benar sementara berproses,” ucapnya.

Dari dua kasus itu, kalangan aktivis menilai ada perbedaan perlakuan dari aparat.  “Yang lebih dulu dilaporkan itu kasus dugaan penipuan yang dilakukan HD. Kasus ini sementara berproses. Sementara kasus dugaan penipuan dengan terlapor MS langsung ditindaklanjuti dengan melakukan penahanan terhadapnya. Ini yang membingungkan kami,” kata Rony. (tim/redaksi)

Related posts