Perluasan Dermaga Terminal Petikemas Bitung Terkendala Persoalan Teknis

  • Whatsapp
Pembangunan terminal petikemas Bitung (foto:antara/ist)

indoBRITA, Bitung- Sejumlah persoalan teknis menghadang pekerjaan reklamasi dan perluasan dermaga  Pelindo IV Terminal Petikemas Bitung (TPB). Hambatan ini diharapkan ada solusi secepatnya mengingat perluasan dermaga TPB ini berkaitan erat dengan proyek tol laut dan International Hub Port.

“Kami dengar pekerjaannya molor. Kalau seperti itu percepatan pembangunan sebagaimana target Presiden Jokowi dan Gubernur Sulut Olly Dondokambey jauh dari harapan,” ujar Ketua PAMI Perjuangan Sulut, Jeffry Sorongan saat dihubungi media ini, Selasa (26/9/2017).

Read More

Manajer SDM Umum Pelindo IV Cabang Bitung, Harison Nanlohi yang ditemui wartawan di ruang kerjanya mengakui adanya kendala teknis itu.  Menurut dia, pekerjaan yang seharusnya sudah mencapai 60 persen kini baru mencapai 40 persen.

“Proyek ini masa pelaksanaannya seharusnya dimulai pada 27 Oktober 2016 dan akan berakhir pada 24 April 2018 tahun depan, nah yang jadi kendala adalah izin Amdal baru keluar pada 19 Mei 2017 dan izin reklamasi baru keluar pada 9 Agustus 2017 yang lalu, otomatis pekerjaan baru bisa dimulai,” tuturnya.

Nanlohi juga menambahkan, perluasan dermaga ini sepanjang 131 meter dan lebar 35 serta reklamasi pantai seluas 5 Hektare yang menelan anggaran sebesar Rp365 Miliar.

“Kita Cuma mengawasi karena pekerjaannya dikerjakan oleh PT Adi Karya dan PT Adi Istaka selaku pemenang tender proyek tersebut,” tambahnya.

Persoalan lain juga diutarakan Weni Ticoalu Site Manager Proyek Penyertaan Modal Negara (PNM) Pelindo IV Cabang Bitung yakni, kekhawatiran dirinya akan kekurangan suplai material dalam rangka proyek reklamasi tersebut. Sebab, saat ini, ada beberapa supplier material seperti pasir yang terpaksa harus dihentikan oleh pihaknya karena terindikasi sumbernya dari tambang Illegal. “Nah itu juga kita akui, memang sempat masuk beberapa kali material itu, namun setelah ketahuan kita hentikan. Yang jadi persoalan saat ini adalah kurangnya suplai yang bisa saja mengganggu deadline pekerjaan,” jelasnya.

Kebutuhan material pasir, menurut dia, secara keseluruhan mencapai 478. 843 M3 dan baru terealisasi sekira 10.000 M3 lebih sementara kebutuhan batu boulder untuk timbunan sendiri mencapai 122. 445 M3 yang realisasinya baru sekira 31.000 M3.

Kendati demikian, secara keseluruhan, dirinya masih optimis proyek ini bisa berjalan sebagaimana mestiya. “Didoakan saja, supaya ini bisa selesai, suplai bahan materialnya juga bisa cukup agar kita bisa menikmati dermaga yang benar-benar representatif untuk IHP dan Tol Laut,” ujarnya. (ibc/jek/nji)

 

Related posts