Penyakit Jantung Koroner, Sulut dan Sultra Tertinggi di ‘Zona Bahaya’

  • Whatsapp

MANADO– Penyakit jantung koroner masih menjadi momok menakutkan.  Organisasi kesehatan dunia (WHO)  mencatat bahwa penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) ini masih menduduki peringkat teratas di negara berkembang hingga tahun 2020.

Di Indonesia sendiri, tiga dari 1.000 penduduk menderita penyakit jantung koroner.  Dari prosentase per provinsi, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Sulawesi Utara (Sulut)  di ‘zona bahaya’ karena menempati peringkat tertinggi.

“Sulut kedua tertinggi setelah Sultra dalam jumlah penderita penyakit jantung. Sementara untuk hipertensi, kolestorol dan stroke, Sulut nomor satu di Indonesia,”  kata dr Victor Joseph, SPJP-FIHA yang menjadi narasumber  pada Media Gathering bertajuk Penyakit Jantung Koroner yang digelar Siloam Hospital, Selasa (28/2/2017)  di Cakrawala Room Aryaduta Hotel Manado.

Berapa kasus kematian akibat penyakit menakutkan ini di Sulut?  Dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah Siloam Hospital Manado ini tak sempat merinci. Ia pun menyebut kalau data yang disampaikannya itu bisa saja berubah.

Masalahnya ada daerah lain yang belum terungkap datanya mengingat kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat. “Papua misalnya kita belum tahu data terakhir,” ucapnya.

Mengingat tingginya penderita penyakit jantung di Tanah Air, terutama di daerah Nyiur Melambai, Victor mengajak masyarakat untuk membiasakan pola hidup sehat.

“Kebanyakan penyakit jantung koroner yang berakibat terjadinya serangan jantung dikarenakan perilaku dan gaya hidup penderita. Hal ini termasuk makan makanan tak sehat, kurangnya berolahraga, merokok dan minuman banyak alkohol atau minuman keras,”  ujarnya.

Dia juga menganjurkan untuk melakukan medical chek secara rutin dan mengenali gejala serangan jantung sejak dini.  “Gejala serangan jantung biasa ditandai dengan rasa tidak nyaman atau nyeri di dada. Umumnya, gejala tersebut disertai dengan keringat dingin, sesak napas, pusing, mual, dan pingsan. Jika terjadi nyeri pada dada seperti diberi beban berat harus diwaspadai ada gejala serangan jantung. Sebaiknya segera periksakan diri ke dokter,”  Victor memaparkan.

Ia meminta kalangan muda untuk  tidak menganggap remeh penyakit ini. “Kalau dulu pasien penyakit jantung rata-rata di atas 45 tahun, sekarang bergeser di antara usia 30-40 tahun,” ucapnya.

Menurut dia, penyakit jantung ada yang dapat dimodifikasi dan ada yang tak tak bisa dimodifikasi. “Yang dapat dimodifikasi adalah hipertensi, diabetes, kebiasaan merokok, kadar kolestorol darah dan obesitas. Sementara yang tak bisa dimodikasii adalah usia, gender dan riwayat keluarga,” ungkapnya.

Direktur RS Siloam Hospital Manado dr Abraham Talumewo, MHSM berharap kalangan pers bisa berperan dalam  upaya pencegahan sedini mungkin terhadap penyakit ini kepada masyarakat Sulawesi Utara. “Media sebagai mitra utama  dalam mensosialisasikan pentingnya menjaga kesehatan terlebih terhadap penyakit jantung,” ucapnya Abraham.

Kegiatan media gathering menurut Direktur Eksekutif  Siloams Hospital, Diana Kawatu akan digelar secara rutin demi terus membagikan pengalaman kepada masyarakat untuk  membiasakan hidup sehat dan melakukan pencegahan sejak dini terhadap penyakit jantung koroner.

“Kami ucapkan terima kasih kehadiran rekan-rekan pers.  Mari mengedukasi masyarakat soal gaya hidup sehat demi meningkatkan pengetahuan dan kemampuan individu membuat keputusan untuk hidup sehat,” ujar pimpinan Lippo Group di Sulut ini.

GM Group PubliC Media Relatiion Siloams Hospital Jimmy Rambing menyatakan edukasi terhadap masyarakat sudah dilakukan beberapa tahun terakhir di seluruh  Indonesia. “ Peran media ini di sini sangat besar. Itu sebabnya kami selalu menggandeng media,” ucap Jimmy yang dibenarkan Head Departemen BD Siloam Manado Magdalena Daluas dan Maketing Communications Melissa Walandouw. (alx)

Related posts