Hasil Reses Tersendat di Meja Eksekutif

  • Whatsapp

MANADO-Setumpuk aspirasi  dibawa wakil rakyat Sulut dari pelaksanaan reses triwulan kedua tahun 2016.  Semua legislator bertekad memperjuangkan aspirasi   yang terjaring tersebut.  Namun, banyak yang tak yakin kalau aspirasi  itu  akan terealisir.  Bukan karena  para penghuni  gedung Cengkih  Sario  tak serius, tapi  pengalaman selama ini,  hasil reses  selalu tersendat di meja eksekutif.

“Anggota legislatif hanya sebagai pendengar dan penerus  suara masyarakat ke eksekutif. Jadi sangat tergantung eksekutif sebagai eksekutor.  Sejauh ini yang saya amati,  eksekutif sudah punya program sendiri selama satu tahun.  Makanya  hasil reses selalu tersendat di meja eksekutif,” kata  Jack Sumerar, pemerhati sosial,  politik dan pemerintahan kepada media ini.

Mantan aktivis mahasiswa ini menyarankan wakil rakyat untuk menjadwalkan reses  dengan  baik dan melibatkan eksekutif supaya semua keluhan masyarakat juga langsung dicatat  oleh pimpinan SKPD.   “Cari tahu permasalahan apa  yang ada di satu wilayah, kemudian bawa pimpinan atau perwakilan SKPD terkait. Dengan begitu aspirasi warga bisa cepat terealisir,”  ujar Sumerar.

Wakil Ketua DPR Sulut, Wenny Lumentut (WL) dan Ketua Komisi IV James Karinda (JK) tak menampik soal  banyaknya aspirasi yang tersendat di meja eksekutif. Karena itu keduanya berharap keluhanan dan berbagai permasalahan  yang dikeluhkan masyarakat selama pelaksanaan reses triwulan,  teakomodir  dalam  APBD-Perubahan 2016.

“Saya akan berupaya memperjuangkan aspirasi konstituen. Tugas  kami berjuang untuk masyarakat.  Eksekutuf sebagai eksekutor, kami harap  mendengar keluhan masyaraka,”  ucap WL.

“Rekomendasi kami ke eksekutif memang  kerap tak dipakai. Mudah-mudahan aspirasi reses kali ini terealisasi di APBD perubahan,”  timpal JK.

JK sendiri  memandang memandang reses  sangat penting. “Banyak problematika pembangunan terangkat  saat reses.  Dialog dengan konstituen juga sangat berarti untuk mengetahui sejauh mana capaian hasil pembangunan,” ucapnya.

Sementara jurnalis senior Joppie Worek  mengatakan kualitas reses perlu didorong agar lebih bertanggungjawab sehingga benar-benar dijalankan sebagai bentuk pelayanan dan pembelajaran politik anggota legislatif kepada rakyatnya.

“Jika wakil rakyat ingin berbenah diri dan membenahi proses demokrasi yang jujur, maka masa reses kali ini bukan saja seremonial atau silaturahmi biasa antara rakyat dan wakilnya, tapi  sarana  penting dalam dialog antara  rakyat dan wakilnya. Dari sana  akan diketahui sejauh mana  capaian pembangunan,”  katanya. (*kp/don)

 

Related posts