Tamu-tamu Penting Negara dan Artis Terkenal Ternyata Langganan Kain Bentenan

  • Whatsapp

MANADO– Sehelai kain sering mengandung sebuah cerita. Begitu pula dengan kain Bentenan. Kain tradisional ini diketahui  ditenun pertama di Ratahan pada abab sembilan belas dan awal abad dua puluh. Tapi, setelah Belanda menguasai  Nusantara, termasuk daerah Nyiur Melambai,  kain Bentenan tak lagi diproduksi dan hilang dari kehidupan masyarakat.

Syukurlah Yayasan Karema yang dipimpin Onny Markady Tamabuwun, sejak tahun 2006 kembali mensosialisasikan dan memproduksi kain Bentera tersebut ke warga Sulut dan masyarakat luas Indonesia.  Upaya Yayasan Karema itu membuahkan hasil.  Warga Sulut dari berbagai kalangan  menyukai kain ini.

“Bentenan nyaman digunakan dan cocok bagi semua kalangan. Kain ini jadi kebanggaan Sulut. Tak heran jika sejumlah kantor dan sekolah menggunakan Bentenan sebagai kain seragam,” ujar Franky, salah satu model di Manado.

Bentenan memang cocok bagi semua kalangan. Kain tradisional ini makin diminati karena  memakai berbagai motif sepertiTuring, Kekusi, Tolai, Patola, Kakunsi dan Pinatikan. Motifnya lainnya seperti  pulau dan Taman Laut Bunaken. “Kain Bentenan itu pusaka yang mesti dilestarikan” kata Nana, salah satu staf Yayasan Karema.

Kini kain Bentenan telah melambungkan  Sulut. Mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan sejumlah pejabat teras di negara ini mengoleksi kain Bentenan untuk dipakai dan dijadikan hadiah bagi sahabat. Tamu-tamu penting negara yang mengunjungi Sulut juga tak canggung menggunakan Bentenan di acara resmi.

“Kain Bentenan juga dikenal luas karena sering dikenakan para model dan artis ibukota dalam sejumlah acara.  Kain ini benar-benar melambungkan nama Sulut,” ucap Didit Pramono, seorang jurnalis nasional.

“Kalau ke Sulut, seperti tidak lengkap kalau tidak membeli Bentenan. Saya pribadi juga bangga melihat sejumlah wisatwan memakai Bentenan. Ini menandakan produk kita mulai diminati dunia,” ujar Didit lagi. (yes/alx)

Related posts