Soal Pariwisata, Pemaparan JA Lebih Realistis dan Terukur

  • Whatsapp

MANADO– Dialog interaktif soal pariwisata Manado di Kompas TV/Pasific TV, Kamis (17/12/2015) sore masih menjadi pembicaraan hangat di sejumlah kedai kopi, rumah makan dan pusat keramaian lainnya. Warga mengapresiasi dua narasumber yang hadir dalam acara tersebut yakni Calon Walikota dari Partai Demokrat G.S Vicky Lumentut (GSVL) dan Calon Wakil Walikota (Cawali) dari Partai Gerindra dan Hanura, Jemmy Asiku (JA). “Sayang yang lain tak hadir,” kata Jill Harmon, mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi swasta di Manado.

Di acara dialog yang juga menghadirkan Rektor STIEPAR Manado Dr Drevy Malalantang SSi SE MPd sebagai narasumber pembanding itu, JA menurut pandangan warga tampil baik. Pemaparan pengusaha sukses itu dianggap lebih realistis dan terukur.

“Ada tiga poin penting yang ditekankan JA dalam dialog tersebut. Pertama pariwisata bisa berkembang jika kita bisa mengupgrade kualitas dan infrastruktur menuju tempat wisata. Kedua memelihara serta menjaga obyek wisata dan ketiga mengupgrade kualitas sumber daya manusia (SDM) dan dinas terkait berdasarkan kompetensi, “ kata pemerhati pariwisata Sulut, Juventus Wee, SPd.

Dalam kaca mata alumnus Unima itu, tiga poin itu yang dilupakan pemangku kebijakan selama ini. “Ya, bagaimana pariwisata berkembang kalau akses menuju ke sana tidak diperhatikan, obyek wisatanya tidak dirawat dengan baik dan kepekaan serta kualitas SDM tidak menunjang. Saya sangat setuju dengan pemaparan JA,” ujar mantan Ketua PMKRI Tondano ini.

Juventus juga menganggap JA lebih mengerti soal penanganan Bunaken sehingga tidak terlalu mencampuri, apalagi menuntut untuk mengelola Bunaken sendiri. “ Bunaken itu milik empat kabupaten/kota yakni Minsel, Minut, Minahasa, dan Manado. Ada sharing bersama keempat daerah itu bersama Sulut dan kewenangan pengelolaannya ke Dewan Pengelola Taman Nasional Bunaken (DPTNB). Jadi tak mungkin diserahkan ke satu kabupaten saja,” ucapnya.

Kata Juventus, lebih bijak kalau keempat daerah, termasuk Sulut untuk duduk bersama kembali membicarakan bagaimana pengelolaan obyek wisata yang sudah mendunia itu. “JA tahu itu, makanya tidak meminta untuk nanti Bunaken diserahkan ke Manado,” katanya.

Sementara menyangkut pemanfaatan Gunung Tumpa, pelaku wisata Yulius Tandirerung menyebut itu kawasann hutan kota, bukan tempat wisata. “Jadi sebaiknya sesuai dengan peruntukkannya,” ungkap nya.

Yulius memuji JA yang lebih serius memikirkan pengembangan infrastuktur dan penambahan destinasi wisata supaya wisatawan lebih lama tinggal di Manado. “Ada satu konsep yang dikemukakan JA saat diskusi dengan kami yakni bagaimana membangun pemukiman dengan konsep wisata seperti di luar negeri. Tapi itu untuk jangka waktu panjang,” ucapnya.

Para penggiat wisata pun memuji tim JA yang ikut memikirkan pengembangan wisata laut dengan mengupayakan transportasi laut dari pantai Malalayang sampai ke pusat kota, Marina Plaza. “Ini tidak disampaikan JA saat dialog, tapi timnya pernah mengatakan sedang merancang ini. Kalau ini juga jadi, selain mengatasi kemacetan, keberadaan transportasi laut menjadi obyek wisata baru nantinya. Kami sangat mendukung rencana itu,” ungkap Harris Wonggo, warga Singkil.

Masyarakat pun  memuji JA yang datang tepat waktu di acara dialog tersebut. “Narasumber lain datang setelah satu jam acara. Jadi wajar ketika dia memaparkan rencananya, JA tinggal jadi pendengar. JA memang pendengar yang baik dan sangat menghormati orang,” kata Fahmi Kangiden, warga Malalayang. (kam)

 

 

Related posts