SAS Tokoh Kawanua Berprestasi Tingkat Nasional

  • Whatsapp

JAKARTA-Dedikasi Syerly Adelyn Sompotan (SAS) terhadap pelestarian budaya Minahasa dan upayanya terus membina musik kulintang serta partisipasi nyata dalam berbagai sektor pembangunan berbuah penghargaan. Politisi cantik itu dianugerahi tokoh Kawanua berprestasi nasional oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Generasi Penerus Pejuang Merah Putih (GPPMP) di Hotel Kartika Chandra Jakarta, Jumat (13/11) malam.

Piagam dari pembina GPPMP Theo Sambuaga (ist)
Piagam dari pembina GPPMP Theo Sambuaga (ist)

Penasehat DPP GPPMP Theo Sambuaga dan Gubernur Sulut Sony Sumarsono menyerahkan langsung award tersebut kepada Calon Wakil Walikota Tomohon itu.  “Kiprah SAS menginspirasi banyak orang untuk tetap menjaga entitas dan identitas Keminahasaan. Dia wanita tangguh yang teguh mengimplementasikan filosofi budaya leluhur Tou Minahasa secara murni dan konsekwen,” kata  Sambuaga usai penganugerahan tersebut.
Ketua Umum DPP GPPMP Jefry Rawis menyebut SAS sudah memberikan keteladanan melalui kiprahnya mempertahankan budaya Minahasa dalam berbagai iven dan aksi nyata setiap hari. Jurnalis senior yang pernah menjadi  anggota DPRD Sulut ini melihat ada ada spirit yang luar biasa dalam diri wanita paling populis di Tomohon itu dalam menjaga situs budaya Minahasa yang mulai punah. “SAS adalah Kartini masa  kini.  Sangat pantas kalau kami menyematkan Tokoh Kawanua Berprestasi Nasional kepadanya bersama 20 warga lainnya,”  ujar Rawis.
Sementara Gubernur Sulut, Sony Sumarsono menyampaikan rasa bangganya atas kepedulian SAS terhadap budaya Minahasa dan kerja kerasnya dalam berbagai sektor, termasuk di bidang sosial. “Penghargaan ini semoga terus melecut semangat SAS dalam pembangunan berdasarkan kompetensi yang dimilikinya,” ungkap Sumarsono.
Nama SAS memang sudah cukup populis di kalangan pemerhati dan penggiat budaya Minahasa. Wakil Bendahara DPD Golkar Sulut ini paling lantang menyuarakan entitas dan identitas Keminahasaan. Dia rela mengeluarkan kocek sendiri untuk menggelar petunjukan seni budaya Minahasa. Tiga tahun terakhir ini, SAS rutin mengirimkan tim ke luar daerah untuk promosi Sulut melalui pagelaran seni dan budaya Minahasa.

SAS bersama tokoh berprestasi lainnya (ist)

“Budaya merupakan jati diri kita. Kita harus mencontoh Jepang, negara maju yang tetap mempertahankan budaya leluhur mereka di tengah arus globalisasi yang sulit dihindari,” ujar pembina Sulut Press Club (SPC) ini.
Direktur di dua perusahaan ini mengaku  miris melihat situs budaya mulai punah hanya karena sebuah proyek. “Budaya mulai terdegredasi. Kita tidak boleh menutup mata melihat situs budaya yang rusak. Sulut harus tetap berbudaya di era modernisasi,” ujarnya. (alx)

Related posts