Gaduh Warganet Soal Topi, Pengamat: Hal Teknis Jangan Timpakan ke Bupati

Gaduh Warganet Soal Topi, Pengamat: Hal Teknis Jangan Timpakan ke Bupati
Bupati Minsel Christiany Eugenia Paruntu (foto: ist)

Amurang, megamanado.com- Bupati Minahasa Selatan (Minsel) Christiany Eugenia Tetty Paruntu SE dibully gara-gara kelalaian bawahan. Ya, wanita cantik yang sudah dua periode memimpin Minsel itu viral di media sosial Facebook, pada 17 Agustus 2020 karena topi yang dikenakannya.

Warganet gaduh soal tata letak warna unsur lambang negara di topi yang dipakai CEP. Berdasarkan foto yang viral di Facebook, ada pertukaran warna pada lambang negara di topi tersebut.

Letak warna ini dianggap tidak lasim, karena publik memahami selama ini, warna merah hanya di kepala banteng dan rantai. Foto ini viral di sejumlah grup dan memicu perdebatan warganet.

Kepala Bagian Humas Pemkab Minsel Ysis Maria Mangindaan menjelaskan, selama lima tahun topi dan lambang Garuda yang dikenakan Bupati Minsel tidak pernah diperdebatkan. Dia malah heran, pada HUT RI tahun ini (2020), lambang di topi CEP jadi bahan perguncingan publik di media sosial.

Mangindaan mengatakan, pengadaan lambang itu ada di Bagian Umum Pemkab Minsel. “Begitu adanya saat diambil dari tokonya. Tidak ada maksud melecehkan lambang negara. Tapi kami berterima kasih atas masukan. Kami akan lebih teliti lagi,” ujar Mangindaan.

Pengamat Politik dan Pemerintahan Sulut Fred Beny Sumual SIP mengatakan, kegaduhan soal tata letak warna lambang negara, seharusnya tidak ditimpakan begitu saja pada Bupati Minsel. Ia meyakini, itu masalah teknis yang tidak bermaksud menggugat ideologi dan filosofi lambang negara.

“Itu bukan kealpaan bupatinya. Ini masalah yang menjadi tanggung jawab bagian umum. Persoalan ketelitian saja. Terlalu naif menghakimi CEP. Tidak baik masalah ini kemudian seolah-olah kesalahan bupati,” jelas Sumual.

Ia menambahkan, jika publik memahami karya dan kinerja CEP selama 10 tahun memimpin Minsel, maka isu kesalahan penempatan warna lambang negara bukan cerminan kelemahan CEP.

“Kalau kita membaca dengan hati, fenomena ini akan timbul pertanyaan kenapa hal teknis luput dari perhatian bupati? Saya yakin CEP menghabisnya banyak energi, pikiran, waktu dan mental termasuk finansial untuk hal-hal besar di masa pandemi. CEP manusia biasa yang bisa saja kurang cermat memerhatikan hal teknis yang menjadi ranah bawahan, karena terlalu fokus pada perkerjaan besar. Masa pandemi menuntut pemimpin kerja tanpa jeda. Wajar kalau urusan ini luput dari perhatian. Harusnya ini bagian yang menjadi tanggung jawab bawahan,” jelas Sumual.

Lanjut Sumual, publik sebaiknya membiasakan diri melihat karya positif seorang pemimpin. “Jangan terperangkap dengan persoalan yang bukan substantif. Kalau bupati bermaksud mengubah simbol negara, tentu bupati bekerja tidak dengan hati untuk rakyatnya. Tapi fakta selama ini, CEP meraih banyak prestasi dan penghargaan karena totalitas dedikasinya untuk Minsel,” tutup Sumual. (alc)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply