Jaga Dunia Maya dan Nyata dari Propaganda Terorisme, BNPT Bentuk Duta Damai di Sejumlah Daerah

Jaga Dunia Maya dan Nyata dari Propaganda Terorisme, BNPT  Bentuk Duta Damai di Sejumlah Daerah
Deputi Pencegahan BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis (tengah) didampingi artis/duta duta Kikan, Home Affairs Attache Kedubes Spanyol Alejandro Herrero Sanchez dan Kadisinfokom Sulut DR Jetty Pulu (foto: nji)

60 Anak Muda Sulut Gabung Jadi Agen Perdamaian

MANADO – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kembali merekrut anak muda untuk menjadi duta damai dunia maya. Kali ini 60 anak muda Sulawesi Utara (Sulut) dirangkul menjadi agen perdamaian sebagai duta damai dunia maya.

Mereka akan bergabung dengan 756 duta damai dunia maya seluruh Indonesia untuk menyebarkan pesan dan konten perdamaian dalam rangka penanggulangan terorisme di dunia maya.

“Saya sangat berbangga dan mengucapkan selamat kepada Duta Damai Provinsi Sulawesi Utara untuk bergabung dalam keluarga besar Duta Damai BNPT. Kehadiran kalian tentu menjadi modal dan kekuatan berharga bagi BNPT untuk terus mewujudkan tujuan dan cita menjaga lingkungan dunia maya dan dunia nyata yang aman dan nyaman dari ancaman radikalisme dan terorisme,” kata Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis saat menutup Pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2018 Provinsi Sulut di Hotel Mercure, Manado, Kamis (15/11/2018).

Menurut Hendri, Sulut menjadi provinsi terakhir di tahun ini yang tentu saja ini akan semakin menambah kekuatan duta damai dalam menyebarkan konten-konten positif dan perdamaian di dunia maya.  Rencananya tahun 2019, BNPT akan lebih memberdayakan pada duta damai dunia maya yang ada dan membawa go international di tingkat ASEAN, Asia, bahkan dunia.

60 anak muda Sulut bersama vokalis Cokelat yang juga duta damai menyampaikan sikap melawan radikalisme dan terorisme (foto: nji)

Pelatihan duta damai dunia maya di Manado ini menghasilkan lima website damai yaitu www.waleleos.dutadamai.id, www.manguni.dutadamai.id, www.mapalus.dutadamai.id, www.tinutuan.dutadamai.id, www.paniki.dutadamai.id.

Hendri mengungkapkan, kenapa kalangan generasi muda penting untuk dirangkul dalam penebaran konten damai di dunia maya? Menurutnya, ada tiga kata kunci yang dapat menjelaskan pertanyaan ini yakni terorisme, dunia maya dan generasi muda.

Pada kesempatan itu, ia juga menjelaskan tentang perkembangan terorisme. Menurutnya, fakta telah menunjukkan jalinan terorisme dan dunia maya telah menandai momentum lahirnya fenomena baru yang disebut terorisme di dunia maya (cyber terorism).

Dalam fenomena ini, kelompok teroris secara fasih dan cerdas memanfaatkan jaringan internet sebagai metode dan alat baru baik dalam hal propaganda, indoktrinasi maupun rekrutmen.

“Apabila terorisme lama lebih mengandalkan pada pola rekrutmen melalui hubungan kekeluargaan, pertemanan, ketokohan, dan lembaga keagamaan dan dilakukan dengan cara-cara tertutup dan pembaiatan langsung, hari ini, kita menyaksikan fenomena baru yang menjadikan media online (website, media sosial, dan social messenger) sebagai sarana propaganda dan rekrutmen. Pola rekrutmennya pun telah berubah dengan perekrutan terbuka dan pembaiatan tidak langsung yakni baiat melalui media atau dikenal ba’at online,” papar mantan Dansatintel Bais TNI ini.

Generasi muda, lanjut Mayjen Hendri, dalam lingkungan baru bernama dunia maya ini merupakan penghuni terbesar dalam melakukan proses interaksi, sosialisasi, identifikasi bahkan proses imitasi sosial melalui dunia maya.

“Pengaruh internet sangat besar terhadap kehidupan manusia di berbagai aspek. Internet tidak hanya bersama kita, tetapi juga merubah cara kita bekerja, cara kita bermain, cara kita hidup bahkan cara kita bersikap dan menjalani hidup. Termasuk bagaimana merubah seorang dari normal menjadi radikal dengan banyak butki yang telah menjadi faktual,” tukasnya.

Ia menjelaskan dalam survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) tahun 2017 menyebutkan bahwa angka pengguna internet telah mencapai 143,26 juta dari total populasi penduduk Indonesia sebesar 262 juta. Artinya, 54, 68 persen penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. Lebih dari 75 persen dari jumlah itu adalah generasi muda.

Melihat pola kecenderungan penggunaan internet ini, dunia maya tidak hanya sebagai ruang interaksi komunikasi, tetapi juga sebagai ruang bagi netizen, khususnya generasi muda untuk mengakses informasi dan pengetahuan.

“Dalam konteks inilah, saya ingin menegaskan bahwa akan sangat berbahaya apabila pengetahuan dan informasi di dunia maya banyak disesaki dengan konten negatif, hoax, fitnah, adu domba dan ajakan kekerasan,” tutur jebolan Akmil 1986 ini.

Hendri menilai kondisi sangat mengkhawatirkan. Pasalnya pemanfaatkan internet oleh masyarakat, tidak diikuti dengan kemampuan literasi media dan literasi digital yang tinggi. Akibatnya, betapa informasi mudah menyebar menjadi viral di media sosial. Itu karena masyarakat tidak sadar mengamini sebuah berita apapun di medsos sebagai sebuah fakta tanpa melalui budaya sharing tanpa saring. Alhasil hoax, ujaran kebencian, kampanye hitam bisa viral, tanpa dilakukan proses verifikasi, cek, dan ricek.

Menurutnya, berita dan konten hoax tidak hanya menyesatkan masyarakat tetapi telah menjadi sarana efektif dan modus bagi penyebaran narasi radikalisme di tengah masyarakat. Kelompok dan organisasi radikal sangat rajin membangun narasi untuk membentuk opini sesat masyarakat. (nji)

example banner

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply