30 Tahun Mengabdi di KemenkumHAM, Asni: Semua kareana Doa dan Keyakinan

30 Tahun Mengabdi di KemenkumHAM, Asni: Semua kareana Doa dan Keyakinan
Asni Patuna (foto: kam)

MANADO– Tidak ada yang kebetulan, saat menemui realitas profesi anggota keluarga yang mengabdi dalam satu wadah yang sama. Kenyataan suami, isteri dan anak-anak yang mengabdi di satu atap institusi, itu berkat pilihan, usaha dan pantas disyukuri. Begitu penuturan Asni Patuna. Wanita kelahiran Manado, 8 Desember 1963 yang kini berkarya di  Kementerian Hukum dan HAM, persis di Rumah Tahanan Kelas IIA Manado.

34 tahun berkarir, bukan waktu yang singkat. Apalagi Asni mampu membimbing suami dan dua anak, bekerja di wilayah serupa.  “Saya tidak pernah mengarahkan suami dan anak-anak untuk bekerja dalam satu institusi yang sama. Mereka yang memilih. Tugas saya sebagai isteri dan ibu dari anak-anak, hanya menuntun dan memberikan pengertian kepada keluarga. Bahwa apapun pekerjaan harus sesuai pilihan dan kerjakan dengan rasa tanggung jawab,” ungkap isteri dari almarhum Tommy Towoliu.

Asni lebih dulu bekerja di wilayah KemenkumHAM sejak 1984 silam. Menyusul suami yang menjadi pegawai KemenkumHAM pada 1990 silam dengan karir terakhir di Lapas Kelas IIA Manado.

Pada 2010, Asni tak mengelak, bahwa karirnya diikuti anak-anak, bahkan serentak diterima sebagai PNS KemenkumHAM. Putri sulung, Lidya Towoliu mengikuti jejak ibu ke Kantor Wilayah KemenkumHAM Sulut. Lalu si bungsu Renaldy S Towoliu di Lembaga Pembinaan Khusus Anak/LPK Tomohon. “Saya bukan siapa-siapa di lingkungan KemenkumHAM. Semua karena usaha, doa dan keyakinan yang mendorong saya menjemput kemauan anak untuk bekerja di lembaga yang sama. Dan Tuhan menjawab doa saya,” ujar Asni.

Ia mengakui bahwa pendidikan formal anggota keluarga tidak ada yang istimewa. Apalah artinya sebuah predikat pendidikan formal tanpa tekad dan motivasi kerja.

“Pendidikan pertama anak-anak, adalah bimbingan orang tua. Saya selalu meyakinkan mereka agar hargai pekerjaan, karena itu hidup,” tutur staf Kepala Pengamanan Rutan Manado itu.

Ia mengingatkan juga, dedikasi di lembaga hukum, menuntut disiplin, tanggung jawab kerja dan komitmen ketegasan. “Kadang kalau berhadapan dengan persoalan WBP yang tidak disiplin, kita butuh pendekatan yang manusiawi. Tapi tetap tegas. Karena ini menyangkut pembinaan hukum, yang subyek hukumnya adalah manusia-manusia juga,” pesan Asni.

Iapun menitip pesan penting tentang ketahanan wanita mengimbangi tugas sebagai isteri, ibu bagi anak-anak, dan abdi negara. “Berkarya dengan semangat, tanggung jawab dan tetap bersyukur. Tanpa spiritualitas itu, kita akan menemukan kehidupan yang kering, di rumah, pun di tempat kerja. Saya sering ingatkan Lidya dan Renaldy agar tetap rendah hati dengan siapa saja,” imbuh Asni. (rey)

example banner

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply