Kapal Bocor Boleh Beroperasi, Aktivis LSM Duga Ada Permainan dari Instansi Terkait

Kapal Bocor Boleh Beroperasi, Aktivis LSM Duga Ada Permainan dari Instansi Terkait
Kapal EB ini dianggap sebagian kalangan tak layak beroperasi karena sudah pernah tenggelam (foto: ges)

MANADO-Aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mempertanyakan keberadaan salah satu kapal bermuatan besar di Pelabuhan Bulo, Minahasa. Maklum, selain pernah tenggelam, kapal ini sudah bocor sehingga dianggap tak layak beroperasi lagi.

Keberadaan salah satu kapal bermuatan besar di Pelabuhan Bulo, Minahasa dipertanyakan banyak kalangan, tak terkecuali para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pertanyaan itu menyangkut kelayakan beroperasi karena kapal ini pernah tenggalam dalam pelayaran menuju Talaud.

“Informasi yang kami dengar kalau kapal ini pernah tenggelang dalam pelayaran menuju Sangihe dan Talaud. Kami heran kok bisa beroperasi lagi? Kami sudah melakukan investigasi dan tahu kondisi kapal sudah bocor,” kata Hermanto dari LSM Pesisir kepada wartawan di Manado, Kamis (14/6/2018)

Hermanto dan kawan-kawan juga menyodorkan fakta adanya pengalasan kapal berinisial EB di Pelabuhan Bulo tersebut. “Kapal sudah cukup tua, saat ini dalam perampungan pengalasan. Kondisi terkini itu menunjukkan  kalau kapal sebenarnya tak layak lagi,” ujarnya.

Jika benar kapal itu sudah beroperasi, para aktivis menduga ada permainan  dari instansi terkait, khususnya Dinas Perhubungan dan  Syahbandar yang membawahi Pelabuhan Bulo. “Izinnya operasi dari mana? Ini perlu dtelusuri,” ungkap Marhadi dari LSM GCM.

indoBRITa Media Group yang menyambangi Pelabuhan Bulo berhasil mengorek informasi dari beberapa anak buah kapal atau ABK. “Iya kapal ini sudah pernah tenggelam, tapi sudah diperbaiki lagi. Seminggu lebih diadakan pengalasan dan sudah selesai,” ucap salah satu ABK.

Soal surat-surat yang dibutuhkan, AP salah satu pimpinan ABK mengaku sudah diurus oleh pemilik kapal. “Kami hanya pekerja,” katanya.

Manajemen juga menurut dia sudah melakukan pergantian ABK. “Rata-rata yang sekarang ini baru. Kami selalu berkoorinasi dengan pemilik kapal di Samarinda” ucapnya.

Terkait operasional  kapal tersebut, Erens dari instansi terkait mengaku ia hanya melakukan pengawasan. “Kami hanya berdasarkan tugas sesuai surat-surat yang ada,” ungkapnya.

Jawaban Erens itu tak memuaskan para aktivis. Mereka menduga ada permainan dari intansi terkait. “Pemiliknya dari luar, berarti ada kemungkinan perusahaannya juga bukan berdomsili di wilayah Manado dan sekitarnya. Setahu kami sudah pernah ada kesepakatan kalau tak boleh ada penambahan perusahaan dan kapal lagi untuk sementara waktu di wilayah Manado, termasuk Pelabuhan Bulo,” ujar Marhadi. (red/ges)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply